Urban Mystery (Jawa Pos, 30 Agustus 2025)
Pelaku Pembunuhan PSK Diteror Korban
ANDI (nama samaran) divonis belasan tahun penjara setelah terbukti menghabisi nyawa seorang pekerja seks komersial (PSK), Sinta (nama samaran) di hotel kawasan Surabaya. Tetapi, cerita Andi tak berhenti di ruang sidang. Di balik jeruji besi, hidupnya justru dipenuhi teror gaib yang membuatnya menyesali perbuatannya setiap malam.
Peristiwa tragis itu terjadi di salah kamar hotel yang kerap dipakai untuk open BO. Usai berkencan, Andi menolak membayar sesuai kesepakatan. Pertengkaran pun pecah. Dalam amarah, dia mencekik Sinta hingga meregang nyawa.
Tubuh perempuan 27 tahun itu dia sembunyikan di kamar mandi, lalu kabur. Tak lama, polisi menangkapnya. Dia disidang dan telah divonis 15 tahun penjara. Namun, sejak mendekam di penjara, kisah Andi justru makin menyeramkan.
Jeritan Tengah Malam
Beberapa napi satu blok masih ingat jelas malam pertama Andi tidur di sel. Sekitar pukul dua dini hari, dia mendadak menjerit.
“Dia bangun, matanya melotot, terus teriak-teriak kayak orang dicekik. Kami semua kebangun, takut juga,” kata R, seorang napi kasus narkoba yang ditempatkan satu sel dengan Andi.
Menurut R yang kini sudah bebas, sejak malam itu Andi sering dihantui mimpi buruk. Dia kerap terbangun dengan tubuh basah keringat, wajah pucat, dan napas tersengal.
“Katanya dia lihat cewek duduk di pojokan sel. Rambutnya basah, lehernya biru, terus bilang ‘bayar utangmu’,” tambah R.
Minta Pindah Sel
Hadi (salah seorang kerabat), mengatakan bahwa Andi kerap diteror hantu perempuan yang dibunuhnya itu. Saat Hadi menjenguknya, Andi ketakutan hingga minta dipindahkan sel.
“Dia bilang ada perempuan yang tiap malam duduk di kasurnya. Saya pikir dia stres. Tapi napi lain juga bilang sering dengar suara cewek nangis,” ucap Hadi.
Menurutnya, meski dipindah blok, Andi tetap mengalami kejadian serupa. Bahkan, beberapa kali ia ditemukan terjatuh di lantai, seperti baru dicekik. “Lehernya merah, padahal nggak ada yang nyentuh,” tambahnya.
Tobat yang Terpaksa
Sejak diteror, Andi berubah drastis. Dia jarang keluar sel saat jam bebas, memilih menghabiskan waktu dengan berdoa. Setiap kali lampu padam, dia menutup telinga dengan tangan, takut mendengar suara rintihan yang hanya dia dengar sendiri.
Hadi mengakui bahwa setelah beberapa tahun mendekam di penjara, sikap Andi kini berubah. “Dulu dia suka main HP, sekarang ketemu saja cuma minta doa. Dia bilang dihantui terus. Mengaku kapok dan tidak akan pernah lagi macam-macam,” tutur kerabat tersebut.
Arwah yang Belum Tenang
Kini Andi menjalani hari harinya dalam ketakutan. Baginya, penjara bukan sekadar hukuman negara, tapi juga tempat ia terus berhadapan dengan arwah korban. Malam demi malam, dia belajar bahwa dosa tak bisa lari, bahkan jeruji besi pun tak sanggup menghalanginya.
Sementara itu, kamar di hotel tempat Sinta tewas kini jarang dipakai lagi. Warga sekitar percaya arwah korban belum tenang, masih menagih bayaran terakhir yang tak pernah dipenuhi.
Para tamu dan karyawan hotel kerap mengeluh di ganggu. Ada yang mendengar tangisan perempuan, ada pula yang mencium bau darah. Bahkan ada yang mengaku melihat sosok wanita duduk di tepi ranjang, rambutnya basah dan wajahnya pucat.
Manajemen hotel akhirnya tidak lagi menyewakan kamar itu. “Kalau bisa, ya di biarkan kosong. Banyak tamu kabur gara-gara ketakutan,” kata Dwi (nama samaran), salah seorang resepsionis. ***
Didatangi Dalam Mimpi untuk Tagih Utang. Didatangi Dalam Mimpi untuk Tagih Utang. Didatangi Dalam Mimpi untuk Tagih Utang. Didatangi Dalam Mimpi untuk Tagih Utang.
Leave a Reply